SUMPAH PEMUDA
Jas Merah: Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Demikian
Ir. Soekarno, Sang Proklamator sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia
ini pernah berpesan.Pada kenyataannya, memang banyak orang yang belajar
sejarah. Bahkan mungkin sampai hapal di luar kepala. Kapan peristiwanya, tempat
terjadinya di mana, siapa tokohnya, dan hasilnya apa. Tahu semua. Sampai
detail-detailnya. Tapi, apa benar ini makna yang tersirat dari pesan ‘Jas
Merah’ nya Bung Karno? Benarkah kita cuma dituntut untuk bisa mengingat sesuatu
yang hanya berhubungan dengan apa, siapa, berapa, di mana, bilamana, dari mana,
hingga sampai pada ke mana?
Banyak orang belajar sejarah. Tapi sedikit orang yang mau
belajar dari sejarah. Sedikit orang yang tertarik untuk belajar menjawab
pertanyaan ‘mengapa’ serta ‘bagaimana’. Padahal sejarah selalu jujur. Sejarah
akan selalu bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan kita dengan kebenaran.
Sejarah akan memberikan pilihan-pilihan jawaban atas setiap pertanyaan yang
kita ajukan berikut konsekuensinya. Sejarah selalu jujur, bahkan terhadap
pembohong sekalipun.
Kita
bisa saja membelokkan sejarah. Kita juga bisa mengubah atau mungkin malah
menutupinya. Tapi sejarah tetaplah sejarah. Sekali-kali ia tak pernah bicara
dusta. Cepat atau lambat, waktu yang akan membuka. Dan sejarahlah yang kemudian
membuktikan kebenaran sejarahnya.
Pada 28 Oktober 1928 adalah sejarah. Sejarah yang
terinspirasi pula oleh sejarah. Para pelaku sejarah yang menyadari tentang
pentingnya persatuan dan kesatuan untuk meraih sebuah kemerdekaan. Perlawanan
menentang penjajahan yang bersifat kedaerahan adalah bukti gagalnya perjuangan.
Maka strategi pun diubah. Siasat diperbarui dan taktik perjuangan model
kedaerahan mulai ditinggalkan. Rasa senasib sepenanggungan sebagai bangsa yang
terjajah, merupakan modal kuat untuk bersatu.
Maka berkumpullah para pemuda pada masa itu dalam sebuah
kongres yang dinamakan Kongres Pemuda II. Pertemuan ini dihadiri oleh
perwakilan-perwakilan dari organisasi kepemudaan. Di antaranya Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond,
Jong Islamieten Bond, dan Jong Ambon. Kongres ini akhirnya menghasilkan ikrar
bersama yang dinamakan Sumpah Pemuda. Dalam pertemuan ini pula lagu Indonesia
Raya pertama kali dikumandangkan oleh W.R. Supratman di depan peserta kongres.
Adapun butir-butir yang terkandung dalam Teks Sumpah Pemuda
berbunyi:
- Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
- Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
- Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Isi Teks Sumpah Pemuda tersebut
secara tegas membulatkan tekad para pemuda, bahwa meskipun berasal dari
pelbagai suku, golongan atau organisasi; tetapi pada hakikatnya tetap satu
tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Persamaan tekad dan pengakuan inilah
yang pada akhirnya membawa keluhuran cita-cita yang sama, yakni kemerdekaan
Indonesia. Dan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan secara resmi untuk pertama
kalinya itu, semakin menambah semangat para pemuda untuk segera mewujudkan
cita-citanya.
Sejarah lalu mencatat. Cita-cita
luhur ini akhirnya menjadi nyata pada 17 Agustus 1945, + 17 tahun sejak
dikumandangkannya Sumpah Pemuda. Jas Merah: Jangan sekali-kali melupakan
sejarah. Maka jadilah kita sebagai orang yang mau belajar dari sejarah.
Sumber
: http://sejarah.kompasiana.com/2013/10/28/selamat-hari-sumpah-pemuda-605415.html
di unduh tanggal 22 Desember 2013 Pukul 16:41
Tidak ada komentar:
Posting Komentar