Selasa, 31 Desember 2013

Artikel Ku



Profil Tokoh

“Pendidikan dasar merupakan tonggak bagaimana sikap peserta didik di masa yang akan datang. Saya memilih mengajar di sekolah dasar karena pendidikan dasar mempunyai “esensi” sebagai “paspor” bagi setiap peserta didik untuk mengembangkan dirinya di masa depan.” Itulah kata beliau.
Beliau adalah ibu Yuli Warsini AMa. Pd. Beliau mulai mengajar pada 1 Februari 1978. “Ajarkan walau hanya satu kata”, kalimat tersebut  sangat membekas di hati beliau dan dengan kalimat itulah beliau memilih untuk menjadi seorang pendidik khususnya sebagai guru sekolah dasar.
Menurut beliau, untuk menjadi guru yang baik apalagi dalam hal penyampaian materi agar dengan mudah bisa diterima oleh peserta didik, seorang guru harus memiliki beberapa hal, seperti niat, sifat jujur, adil, jiwa humor yang sehat, dapat menjadi model dalam pembelajaran, dapat melakukan komunikasi aktif, dan menjalin keakraban dengan siswa. Dalam proses belajar-mengajar, Ibu Yuli selalu berusaha dekat dengan siswa agar siswa mau terbuka sehingga komunikasi dan pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam metode penyampaian materi, diantaranya; menyampaikan SK dan KD  yang akan dicapai, teknik berbicara, eye contact, karena secara psikologi, siswa akan merasa mendapat perhatian dan lebih merasa dihargai jika guru melakukan kontak mata, pratikum, dan memberi pujian sederhana untuk siswa yang berani berekspresi.
Setelah sekian lama mengajar, Ibu Yuli mempunyai banyak pengalaman baik suka maupun duka. “Guru, kalau orang Jawa bilang, “digugu lan ditiru”, maka tugas seorang guru sebenarnya sangat berat karena manjadi sorotan masyarakat, bertindak salah sedikit akan mempunyai efek yang besar. Sukanya menjadi guru yang paling bermanfaat adalah dapat menularkan ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, bercanda dengan anak-anak merupakan hiburan tersendiri, dapat menggali banyak informasi dari lingkungan yang dapat digunakan sebagai pembelajaran hidup, dan pastinya bikin awet muda. Dukanya, merasa bersalah jika tidak bisa memberikan  contoh kepada siswa dan melihat siswa tidak berhasil dalam belajar. Karena hal yang paling membanggakan dan memuaskan adalah ketika melihat anak bisa berhasil dan sukses,” begitu tutur beliau. (Riski Utami)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar