Profil Tokoh
“Pendidikan
dasar merupakan tonggak bagaimana sikap peserta didik di masa yang akan datang.
Saya memilih mengajar di sekolah dasar karena pendidikan dasar mempunyai
“esensi” sebagai “paspor” bagi setiap peserta didik untuk mengembangkan
dirinya di masa depan.” Itulah kata beliau.
Beliau
adalah ibu Yuli Warsini AMa. Pd. Beliau mulai mengajar pada 1 Februari 1978.
“Ajarkan walau hanya satu kata”, kalimat tersebut sangat membekas di hati beliau dan dengan
kalimat itulah beliau memilih untuk menjadi seorang pendidik khususnya sebagai
guru sekolah dasar.
Menurut beliau, untuk menjadi guru yang baik apalagi
dalam hal penyampaian materi agar dengan mudah bisa diterima oleh peserta
didik, seorang guru harus memiliki beberapa hal, seperti niat, sifat jujur,
adil, jiwa humor yang sehat, dapat menjadi model dalam pembelajaran, dapat
melakukan komunikasi aktif, dan menjalin keakraban dengan siswa. Dalam proses
belajar-mengajar, Ibu Yuli selalu berusaha dekat dengan siswa agar siswa mau
terbuka sehingga komunikasi dan pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam metode penyampaian materi, diantaranya;
menyampaikan SK dan KD yang akan
dicapai, teknik berbicara, eye contact, karena secara psikologi, siswa
akan merasa mendapat perhatian dan lebih merasa dihargai jika guru melakukan
kontak mata, pratikum, dan memberi pujian sederhana untuk siswa yang berani
berekspresi.
Setelah sekian lama mengajar, Ibu Yuli mempunyai
banyak pengalaman baik suka maupun duka. “Guru, kalau orang Jawa bilang, “digugu
lan ditiru”, maka tugas seorang guru sebenarnya sangat berat karena manjadi
sorotan masyarakat, bertindak salah sedikit akan mempunyai efek yang besar.
Sukanya menjadi guru yang paling bermanfaat adalah dapat menularkan ilmu yang
bermanfaat bagi orang lain, bercanda dengan anak-anak merupakan hiburan
tersendiri, dapat menggali banyak informasi dari lingkungan yang dapat
digunakan sebagai pembelajaran hidup, dan pastinya bikin awet muda. Dukanya,
merasa bersalah jika tidak bisa memberikan
contoh kepada siswa dan melihat siswa tidak berhasil dalam belajar.
Karena hal yang paling membanggakan dan memuaskan adalah ketika melihat anak
bisa berhasil dan sukses,” begitu tutur beliau. (Riski Utami)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar